~AKU~ Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi.
~PENERIMAAN~ Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati Aku masih tetap sendiri Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tentang aku dengan
berani Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi Sedang dengan cermin aku enggan
berbagi.
~HAMPA~ kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi. Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
~DOA~ kepada pemeluk teguh Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk
remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
~SAJAK PUTIH~ Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar
dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut
senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa
tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak
membelah…
~SENJA DI PELABUHAN KECIL~ Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada
cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu
tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada
juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari
berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak
bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang
ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap
harap
sekali tiba di ujung dan sekalian
selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
~CINTAKU JAUH DI PULAU~ Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si
pacar.
angin membantu, laut terang, tapi
terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya. Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala
melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,” Amboi! Jalan sudah bertahun ku
tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh! Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan
cintaku?! Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
~MALAM DI PEGUNUNGAN~ Aku berpikir: Bulan inikah yang
membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat
jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
~YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS~ kelam dan angin lalu mempesiang
diriku,
menggigir juga ruang di mana dia
yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi
semati tugu di Karet, di Karet (daerahku y.a.d)
sampai juga deru dingin aku berbenah dalam kamar, dalam
diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru
padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak
lantang tubuhku diam dan sendiri, cerita dan
peristiwa berlalu beku.
~DERAI DERAI CEMARA~ cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap
merapuh
dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah
rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak
terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.